Rabu, 17 September 2014

Belajar bersyukur yuuk



 
            UNPREDICTABLE, siapa yang bisa menduga apa yang terjadi hari ini? Tidak ada, mungkin detik ini kita tertawa lepas bahagia tetapi 1 jam lagi? 2 jam lagi? Pa kita masih bisa tertawa lepas atau malahan menangis? Hidup itu sebuah perjalanan dan proses, setiap tahapnya bukankah harus disyukuri? Sebuah tulisan dari kisah nyata seorang Wahyu Setiawan, salah satu adek asuh @senyumkita. Yaaah aku memang belum bertemu langsung dengan orangnya, karena aku hanya administrator sekaligus editor. Tulisan wahyu tidak mungkin saya masukkan dalam recycle bin. Aku berharap teman-teman bisa membaca tulisan Wahyu dan mengambil  setiap pelajaran disetiap uraian kisahnya dalam tulisan ini.

***

Wahyu Setiawan
 Sang Atlet yang Tak Kenal Menyerah
 
“ Aku melangkah untuk mencapai apa yang kuinginkan tetapi aku harus berlari lebih kencang ntuk mendapatkannya. Meski kerikil dan jalanan terjal akan menghalangi setiap langkah kakiku. Tapi aku takkan menyerah!!”

            Aku tidak suka orang melihatku sebelah mata. Aku sama seperti kalian tetapi yang membedakanku dengan kalian adalah kedua mataku. Allah telah mengambil fungsi kedua mataku beberapa tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan menimpaku saat aku berumur 4 tahun yang menyebabkan mata kiriku kehilangan fungsinya. Aku masih sempat melihat dengan mataku yang sebelah kanan, tetapi Allah punya kehendak lain. Sebuah bola kasti tepat mengenai mata kananku yang menyebabkan penglihatanku kabur. Semenjak itu kedua mataku tidak seperti dulu lagi.
            Apakah dengan kondisiku seperti ini menyebabkan aku patah semangat ? Jawabannya TIDAK. Meskipun aku kehilangan kedua mataku, aku sama sekali tidak akan kehilangan semangatku belajar dan sekolah. Setelah kedua mataku kehilangan fungsinya aku pindah ke sekolah luar biasa (SLB) meskipun keluargaku tidak menyetujui keputusanku. Aku harus tetap terus belajar dan bersekolah apapun yang terjadi. Aku tidak menghiraukan dengan anggapan orang-orang bahwa SLB adalah sekolah yang isinya orang gila. Aku belajar dari awal menyesuaikan diri, belajar menulis Braille dan belajar membaca.
            Kondisiku yang tidak seperti dulu sama sekali tidak menghentikan aktivitasku. Waktu pagiku, aku gunakan untuk sekolah dan siang harinya aku gunakan untuk membantu nenekku untuk mencari pasir. Nenekku adalah seorang pencari pasir di sungai dekat rumah. Aku harus membantunya, demi mencari uang saku. Aku membantu nenekku sekuat tenagaku. Terkadang aku membawa pasir dari sungai dengan keranjang kecil dan karung beras. Sedangkan saat sore menjelang, aku berangkat mengaji, dan malamnya aku gunakan untuk belajar.
            Aku suka berhitung. Matematika adalah pelajaran yang aku sukai diantara pelajaran yang lainnya. Matematika membuatku tenggelam asyik dengan dunia berhitung. Posisi rangking 5 besar selalu aku dapatkan selama bersekolah di bangku sekolah dasar. Aku sangat bersemangat belajar, buktinya dalam waktu seminggu aku sudah bisa menulis dan membaca huruf braille, meskipun membacanya belum begitu lancar. Tapi aku percaya asalkan mau berusaha dan bersungguh – sungguh pasti aku bisa.
            Sebuah kecelakaan menimpaku, Aku  terjatuh ke dalam jurang dengan kedalaman kurang lebih 10 meter. Pipi sebelah atasku dan keningku berlubang juga dadaku mengalami cedera. Sempat aku merasa, bahwa aku sudah tak ada di dunia. Aku pingsan cukup lama dan dilarikan ke rumah sakit kecamatan, tetapi rumah sakit tidak mampu mengatasi lukaku. Akhirnya aku disarankan untuk dibawa ke rumah sakit di kota. Baru disitulah lukaku bisa ditangani dan dioperasi. Selama 2 minggu aku harus dirawat di rumah sakit dan meninggalkan rutinitasku sekolah.
            Setelah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang dari rumah sakit. Aku sangat senang bisa kembali bersekolah lagi. Aku mendapatkan tawaran mengikuti lomba catur dan cipta puisi oleh guruku. Aku belajar dan menekuni hal tersebut. Syukur alhamdulilah ketekunanku belajar membuahkan hasil. Aku mendapat juara 1 catur tingkat kabupaten dan juara 3 baca dan cipta puisi. Meskipun aku kalah dalam perlombaan catur tingkat provinsi, tapi aku tak kenal menyerah aku tetap berlatih dan belajar. Turnamen catur berikutnya di tingkat provinsi aku menyabet juara 1 catur tingkat provinsi dan bisa melanjutkan ke perlombaan catur tingkat nasional.
            Aku mengahabiskan waktu sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di SLB. Setelah kenaikan kelas di bangku SMP aku memutuskan pindah sekolah ke Solo. Aku tinggal di asrama dan tidak tinggal bersam nenek ku seperti aku SD dan SMP. Setelah 2 bulan aku sekolah di Solo aku ditawari mengikuti perlombaan lari tingkat nasional. Latihan demi latihan aku jalani dengan semangat. Tapi kata pelatih lariku aku tidak cocok menjadi pelari, karena katanya lariku seperti bebek. Tapi itu justru yang menjadi cambuk bagiku untuk berlatih lari lebih keras. Aku akan membuktikan bahwa aku pasti bisa. Allah tidak diam melihat usaha hambanya, aku mendapatkan juara 1 lari tingkat nasional.
   Tuhan kembali mengujiku. Aku membutuhkan biaya untuk masuk SMA tetapi tabunganku sudah habis, dipakai oleh keluargaku. Hanya satu barang yang aku punya saat itu, handphone. Aku berniat untuk menjual HPku untuk membayar biaya sekolah. Tetapi temanku melarangnya. Dia menyarankanku untuk mencari beasiswa dulu. Tuhan memang tak pernah diam. Akhirnya ada seseorang yang membantuku. Akhirnya aku sekarang bisa melanjutkan sekolah di salah satu SMA Negeri di Solo. Tuhan tidak pernah menguji manusia di luar kemampuan hambanya. Karena setiap ujian yang di hadapi manusia terselip hikmah di baliknya. Dibalik putihnya warna yang ada di skitar ku, meskipun aku tidak bisa lagi melihat indahnya lautan, tingginya gunung. Tapi dari itu aku belajar memahami hidup, belajar, untuk bersyukur.
            Hanya satu pintaku tuk memandang langit biru dalam dekap Ayah dan ibu, Ibu sudah bahagia di surga dan meninggalkanku saat aku berusia 5 tahun. Aku tak tahu ayahku dimana, Ibuku bilang ayah sudah meninggal tetapi kenyataannya Ayah masih hidup dan tidak mau bertemu denganku. Aku tidak tahu salahku apa dengan ayah, tapi aku rindu dengan ayah. Bagaimana sosok ayahku seperti apakah dia yang sebenarnya, tetapi itu hanya keinginan kecil di lubuk hatiku yang paling dalam. Meskipun begitu aku bahagia dengan keluarga kecilku. Sepeninggalnya ibu, Aku tinggal dengan ayah tiriku dan adik tiriku. Ayah tiriku menikahi kakak ibuku yang sering aku kenal Budhe. Aku senang kini memiliki 2 adik tiri, aku tidak peduli saudara kandung atau tiri karena semua adalah keluarga. Kondisi ekonomi keluargaku memanglah kurang sehingga aku harus berusaha keras mencari uang dengan menjadi atlet.  Meskipun begitu aku akan berusaha keras menggapai impianku, aku tidak mau keterbatasan menghalangiku mencapinya.
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar