Rabu, 08 Agustus 2012

Sebuah perenungan : Belajar Untuk Bersyukur


        Matahari menyinari indahnya pagi. Burung-burung mulai mengepakkan sayapnya, terbang kesana kemari. Hidupnya bagaikan bebas ketika mereka terbang menembus awan dan menghirup udara segar pagi hari. Mata ini sejenak terpejam, udara terhirup  tanpa membayar sepeser pun. Terdengar suara gemericik air yang keluar dari keran yang  kurang tertutup rapat. Suara kicauan burung terdengar di telinga ini. Tangan ini begitu dingin menyambut pagi ini.  Dalam hati “alhamdulillah ya allah hambamu masih bisa merasakan indahnya pagi ini”. Sebuah ungkapan syukur pada sang pencipta.
                Pernahkah terpikir oleh kita untuk meluangkan sejenak waktu kita dari rutinitas tiap harinya untuk merasakan 1 menit indahnya dunia ini? Merasakan udara yang segar di pagi hari. Melihat indahnya langit yang berwarna biru dan awan. Melihat matahari ketika datangnya siang dan bulan ketika malam. Merasakan panasnya matahari ketika siang dan dinginnya malam hari. Mencium wanginya bunga-bunga yang bermekaran. Membedakan bau yang harum dan tidak enak, mencium harumnya bunga melati. Mencium aroma yang tidak sedap ketika melewati tempat pembuangan sampah.
                Pernahkah terpikir oleh kita untuk memperhatikan apa yang disekitar kita? Seorang anak kecil berjalan tanpa semangat, menyanyikan lagu seadanya sambil menyodorkan tangannya kepada pengendara jalan. Uang recehan atau lembaran kertas, terkadang dia dapatkan tapi kalau tidak ada orang yang memberi. Raut wajahnya akan sedih. Namun ada juga anak kecil yang membawa sebuah karung yang berisi sampah dan barang bekas. Dya tetap berjalan menyusuri tempat-tempat dimana dia akan mendapatkan sampah untuk dijual. Sebuah alat pengambil sampah tak lepas dari tangannya, alat itulah yang membantunya mencari uang di hari itu.
                Pernahkah terpikir oleh kita untuk memahami perasaan orang ? Tertawa lepas dengan senangnya ketika melihat teman kita terpeleset jatuh. Atau bahkan merasa senang ketika teman kita tertimpa musibah. Ataukan kita bangga dengan keberhasilan, menyombongkan segala keberhasilan kita kepada orang lain merasa dirinya hebat dan kuat tanpa memahami perasaan orang yang mengalami kegagalan.  Menyepelekan pendapat orang lain, merasa  pendapat kita yang lebih baik, Mencaci maki pendapat dan hasil karya orang lain.
                Pernahkah terpikir oleh kita untuk memahami tubuh kita ? Mata merupakan jendela dunia, kala malam dengan tugas yang menumpuk mata dipaksa untuk terus bekerja padahal mata itu sudah lelah. Rasa kantuk dilawan seakan-akan kita yang mengatur segalanya dan tak memahami mata kita bahwa mata ini sudah lelah. Berlari tanpa henti, padahal kaki itu sudah lecet sudah tak mampu berlari lagi. Tapi kita egois kita memaksakan diri kalau “mampu” padahal mereka juga punya batas, mereka juga butuh istirahat.
                Pernahkah terpikir oleh kita untuk meluangkan waktu sejenak untuk keluarga, sahabat dan orang-orang yang dicintai? Ketika berkumpul kita sengaja absen tidak ikut dengan alasan banyak pekerjaan. Ketika kita diminta tolong orangtua untuk melakukan pekerjaan rumah, kita sengaja tidur-tiduran alasanya tidak enak badan. Kesibukan sekolah,kuliah, kerja rutinitas tiap hari yang tiada henti bahkan menyita waktu weekend telah menguras waktu kita, tapi kita makhluk social butuh kebutuhan social yang harus dipenuhi bukan??
                Life is often unpredictable, kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini atau tidak merasakan kehidupan ini. Selagi kita masih bernafas dan merasakan kehidupan ini, kenapa tidak kita mencoba beryukur atas segala pemberian tuhan kepada kita? Mungkin kita gag tahu kapan bisa melihat lagi bulan yang indah dan merasakan bahagianya hari-hari kita dengan orang-orang yang kita sayangi.  Dengan bersyukur sekecil apapun kita akan merasakan bahwa hidup ini terasa lebih menyenangkan. Janganlah kita gampang mengeluh dan menyerah. Kita dilahirkan di bumi ini pasti ada sesuatu rencana tuhan untuk kita semua.
                Mencoba mensyukuri pemberian tuhan, badan yang sehat dan sempurna bisa melakukan hal apa saja yang kita inginkan. Kehidupan yang tercukupi dengan fasilitas yang ada. Coba kita bayangkan ketika kita harus bekerja mencari sampah dan mengais rejeki dengan ngamen di jalanan? Apakah kita mampu hidup seperti itu? Apakah kita akan sekuat mereka yang bekerja seperti itu? Kita yang diberikan sehat dan berkecukupan, tugas kita bersama untuk menjaga diri kita dan membantu mereka yang belum beruntung. Belajar untuk memberi kepada orang yang membutuhkan, belajar untuk memahami keadaan seseorang dan belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Waktu yang kita miliki di dunia ini gunakanlah untuk memberikan kebahagiaan pada diri kita sendiri dan orang lain, melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sesuatu yang kecil dan bermanfaat akan mengubah dunia ini menjadi sesuatu yang besar dan lebih baik. ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar